Tampilkan postingan dengan label askep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label askep. Tampilkan semua postingan

PERAWATAN PASIEN DENGANHEMODIALISA



 

A.     Pengertian

Hemodialisa adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap akhir gagal ginjal atau pasien berpenyakit akut yang membutuhkan dialysis waktu singkat (DR. Nursalam M. Nurs, 2006).
Haemodialysis adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti ureum dan zat beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat dializer yang berisi membrane yang selektif-permeabel dimana melalui membrane tersebut fusi zat-zat yang tidak dikehendaki terjadi. Haemodialysa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa bentuk keracunan (Christin Brooker, 2001).
Hemodialisis berasal dari kata hemo yang berarti darah dan dialysis yang berarti pemisahan atau filtrasi, melalui membrane semi-permeabel. Jadi hemodialisa adalah proses pemisahan atau filtrasi zat-zat tertentu dari darah melalui membrane semi-permeabel (Fery Erawati Burnama (Instalasi Dialisis RSUD Dr. Doris Silvanus)).
Hemodialisa adalah suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan beredar dalam sebuah mesin diluar tubuh yang disebut dialyzer. Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka dibuat suatu hubungan buatan diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan (www.medicastore.com) .

B.     Dasar-dasar Hemodialisis
Setiap 1 juta penduduk terdapat 25-50 orang mengalami gagal ginjal terminal (GGT)/tahun.
Bila tidak diobati : meninggal dunia
Bila diobati dengan terapi pengganti (TP) : masih dapat hidup bertahun-tahun.
Terapi Pengganti (TP) : 1. Hemodialisa
    2. CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialisis)
    3. Transplantasi ginjal
Hemodialisa merupakan salah satu bentuk terapi pada pasien dengan kegagalan fungsi ginjal, baik yang sifatnya akut maupun kronik sampai pada stadium gagal ginjal terminal, dengan bantuan mesin hemodialisa. Ada 3 unsur penting yang saling terkait pada proses hemodialisa yaitu : sirkuit darah (saluran ekstrakorporeal), ginjal buatan (dializer), dan sirkuit dialisat.
Prinsip pada hemodialisis, mesin memompa darah dari tubuh pasien ke dalam dializer, dan dari sisi lain cairan dialisat dialirkan kedalam dializer. Didalam dializer inilah proses dialysis terjadi. Darah yang sudah didialisis atau sudah dibersihkan dipompa kembali kedalam tubuh. Untuk kelancaran dan keberhasilan proses hemodialisis dengan mesin hemodialisis diperlukan suatu prosedur tentang tindakan hemodialisis.

 

  • Tujuan Hemodilisa
    Tujuan hemodialisis adalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan.


  • Indikasi Hemodialisa

    • Indikasi segera
      Koma, perikarditis, atau efusi pericardium, neuropati perifer, hiperkalemi, hipertensi maligna, over hidrasi atau edema paru, oliguri berat atau anuria.

    • Indikasi dini

      • Gejala uremia
        Mual, muntah, perubahan mental, penyakit tulang, gangguan pertumbuhan dan perkembangan seks dan perubahan kulitas hidup.

      • Laboratorium abnormal
        Asidosis, azotemia (kreatinin 8-12 mg %) dan Blood Urea Nitrogen (BUN) : 100 – 120 mg %, TKK : 5 ml/menit.

    • Frekuensi Hemodialisa
      Frekuensi dialisa bervariasi, tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa, tetapi sebagian besar penderita menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu.
      Program dialisa dikatakan berhasil jika:

      • penderita kembali menjalani hidup normal

      • penderita kembali menjalani diet yang normal

      • jumlah sel darah merah dapat ditoleransi

      • tekanan darah normal

      • tidak terdapat kerusakan saraf yang progresif.

 

  • Peralatan Haemodialisa

    • Arterial – Venouse Blood Line (AVBL)
      AVBL terdiri dari :

  1. Arterial Blood Line (ABL)
    Adalah tubing tubing/line plastic yang menghubungkan darah dari tubing akses vaskular tubuh pasien menuju dialiser, disebut Inlet ditandai dengan warna merah.

  2. Venouse Blood Line
    Adalah tubing/line plastic yang menghubungkan darah dari dialiser dengan tubing akses vascular menuju tubuh pasien disebut outlet ditandai dengan warna biru. Priming volume AVBL antara 100-500 ml. priming volume adalah volume cairan yang diisikan pertama kali pada AVBL dan kompartemen dialiser.
    Bagian-bagian dari AVBL dan kopartemen adalah konektor, ujung runcing,segmen pump,tubing arterial/venouse pressure,tubing udara,bubble trap,tubing infuse/transfuse set, port biru obat ,port darah/merah herah heparin,tubing heparin dan ujung tumpul.

 

  • Dializer /ginjal buatan (artificial kidney)
    Adalah suatu alat dimana proses dialisis terjadi terdiri dari 2 ruang /kompartemen,yaitu:

    • Kompartemen darah yaitu ruangan yang berisi darah

    • Kompartemen dialisat yaitu ruangan yang berisi dialisat

    • Kedua kompartemen dipisahkan oleh membran semipermiabel.

    • Dialiser mempunyai 4 lubang yaitu dua ujung untuk keluar masuk darah dan dua samping untuk keluar masuk dialisat.

 

  • Air water treatment
    Air dalam tindakan hemodialis dipakai sebagai pencampur dialisat peka (diasol). Air ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti air PAM dan air sumur, yang harus dimurnikan dulu dengan cara "water treatment" sehingga memenuhi standar AAMI (Association for the Advancement of Medical Instrument). Jumlah air yang dibutuhkan untuk satu session hemodilaisis seorang pasien adalah sekitar 120 Liter.

  • Larutan Dialisat
    Dialisat adalah larutan yang mengandung elektrolit dalam komposisi tertentu. Dipasaran beredar dua macam dialisat yaitu dialisat asetat dan dialisat bicarbonate. Dialisat asetat menurut komposisinya ada beberapa macam yaitu : jenis standart, free potassium, low calsium dan lain-lain. Bentuk bicarbonate ada yang powder, sehingga sebelum dipakai perlu dilarutkan dalam air murni/air water treatment sebanyak 9,5 liter dan ada yang bentuk cair (siap pakai).

  • Mesin hemodialisis
    Ada bermacam-macam mesin hemodilisis sesuai dengan merek nya. Tetapi prinsipnya sama yaitu blood pump, system pengaturan larutan dilisat, system pemantauan mesin terdiri dari blood circuit dan dillisat circuit dan bebagai monitor sebagai deteksi adanya kesalahan. Dan komponen tambahan seperti heparin pump, tombol bicarbonate, control ultrafiltrasi, program ultrafiltrasi, kateter vena, blood volume monitor.

  • Perlengkapan hemodilaisis lainnya

    • Jarum punksi, adalah jarum yang dipakai pada saat melakukan punksi akses vaskuler, macamnya :

      • Single needle
        Jarum yang dipakai hanya satu, tetapi mempunyai dua cabang, yang satu untuk darah masuk dan yang satu untuk darah keluar. Punksi hanya dilakukan sekali.

      • AV – Fistula
        Jarum yang bentuknya seperti wing needle tetapi ukurannya besar. Jika menggunakan AV – Fistula ini, dilakukan dua kali penusukan.

 

  • Komplikasi Hemodialisa
Komplikasi Penyebab 
Demam







Reaksi anafilaksis yg berakibat fatal

(anafilaksis)



Tekanan darah rendah



Gangguan irama jantung





Emboli udara



Perdarahan usus, otak, mata atau perut 
  • Bakteri atau zat penyebab demam (pirogen) di dalam darah
  • Dialisat terlalu panas


  • Alergi terhadap zat di dalam mesin
  • Tekanan darah rendah




  • Terlalu banyak cairan yg dibuang


  • Kadar kalium & zat lainnya yg abnormal dalam darah


  • Udara memasuki darah di dalam mesin


  • Penggunaan heparin di dalam mesin untuk mencegah pembekuan


 
 
Gambar pasien yang menjalani hemodialisa
(dikutip dari www.medicastore.com)

 
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

  • Pengkajian

    • Identitas klien

    • Riwayat Penyakit

      • Riwayat penyakit infeksi

      • Riwayat penykit batu/obstruksi

      • Riwayat pemakaian obat-obatan

      • Riwayat penyakit endokrin

      • Riwayat penyakit vaskuler

      • Riwayat penyakit jantung

    • Data interdialisis (klien hemodialisis rutin)
      Data interdialisis meliputi :

      • Berat badan kering klien atau Dry Weight, yaitu : berat badan di mana klien merasa enak, tidak ada udema ekstrimitas, tidak merasa melayang dan tidak merasa sesak ataupun berat, nafsu makan baik, tidak anemis.

      • Berat badan interdialisis : Berat badan hemodialisis sekarang – Berat badan post hemodialisis yang lalu (Kg).

      • Kapan terakhir hemodialisis.

    • Pemeriksaan Fisik

      • Keadaan umum klien

        • Data subjektif : lemah badan, cepat lelah, melayang.

        • Data objektif : nampak sakit, pucat keabu-abuan, kurus, kadang – kadang disertai edema ekstremitas, napas terengah-engah.

      • Kepala

        • Retinopati

        • Konjunktiva anemis

        • Sclera ikteric dan kadang – kadang disertai mata merah (red eye syndrome).

        • Rambut ronok

        • Muka tampak sembab

        • Bau mulut amoniak

      • Leher

        • Vena jugularis meningkat/tidak

        • Pembesaran kelenjar/tidak

      • Dada

        • Gerakkan napas kanan/kiri seimbang/simetris

        • Ronckhi basah/kering

        • Edema paru

      • Abdomen

        • Ketegangan

        • Ascites (perhatikan penambahan lingkar perut pada kunjungan berikutnya).

        • Kram perut

        • Mual/munta

      • Kulit

        • Gatal-gatal

        • Mudah sekali berdarah (easy bruishing)

        • Kulit kering dan bersisik

        • keringat dingin, lembab

        • perubahan turgor kulit

      • Ekstremitas

        • Kelemahan gerak

        • Kram

        • Edema (ekstremitas atas/bawah)

        • Ekstremitas atas : sudahkah operasi untuk akses vaskuler

    • Pemeriksaan persistem

      • System kardiovaskuler

        • Data subjektif : sesak napas, sembab, batuk dengan dahak/riak, berdarah/tidak.

        • Data objektif : hipertensi, kardiomegali, nampak sembab dan susah bernapas.

      • System pernapasan

        • Data subjektif : merasa susah bernapas, mudah terengah-engah saat beraktifitas.

        • Data objektif : edema paru, dispnea, ortopnea, kusmaul.

  • Sistem pencernaan

    • Data subjektif napsu makan turun, mual/muntah, lidah hilang rasa, cegukan, diare (lender darah, encer) beberapa kali sehari.

    • Data objektif : cegukan, melena/tidak.

  • Sistem Neuromuskuler

    • Data subjektif : tungkai lemah, parestesi, kram otot, daya konsentrasi turun, insomnia dan gelisah, nyeri/sakit kepala.

    • Data objektif : neuropati perifer, asteriksis dan mioklonus, nampak menahan nyeri.

  • Sistem genito – urinaria

    • Data subjektif : libido menurun, noktoria, oliguria/anuria, infertilitas (pada wanita).

    • Data objektif : edema pada system genital.

  • System psikososial

    • Integritas ego

      • Stressor : financial, hubungan dan komunikasi

      • Merasa tidak mampu dan lemah

      • Denial, cemas, takut, marah, mudah tersinggung

      • Perubahan body image

      • Mekanisme koping klien/keluarga kurang efektif

      • Pemahaman klien dan keluarga terhadap diagnosis, penyakit dan perawatannya, kadang masih kurang.

    • Interaksi social

      • Denial, menarik diri dari lingkungan

      • Perubahan fungsi peran dikeluarga dan masyarakat.


  • Diagnosa Keperawatan
    Diagnosa Keperawatan menurut Marilynn E.Denges, 1999 adalah sebagai berikut :

    • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan anoreksia, hilangnya protein selama dialisis, pembatasan diet.

    • Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan terapi pembatasan, penurunan kekuatan/tahanan, gangguan persepsi/kognitif.

    • Kurang perawatan diri sehubungan dengan intoleransi aktivitas.

    • Risiko tinggi terhadap konstipasi sehubungan dengan penurunan masukkan cairan, perubahan pola diet, penurunan motilitas usus.

    • Perubahan proses piker sehubungan dengan perubahan fisiologis.

    • Ansietas sehubungan dengan krisis situasional, ancaman kematian.

    • Gangguan citra tubuh sehubungan dengan krisis situasional, penyakit kronis.

    • Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat, tidak mengenal sumber informasi, keterbatasan kognitif.



  • Intervensi dan Implementasi

    • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan anoreksia, hilangnya protein selama dialisis, pembatasan diet.
      Intervensi / Implementasi

      • Kaji masukkan dan haluaran pasien setiap hari.
        R : mengidentifikasi kekurangan kalori setiap hari.

      • Anjurkan pasien mempertahankan masukkan makanan harian sesuai anjuran diet yang ditentukan.
        R : membantu pasien menyadari kebutuhan dietnya.

      • Ukur massa otot melalui lipatan trisep atau tonus otot.
        R : mengkaji keadekuatan nutrisi melalui pengukuran perubahan deposit lemak yang menentukan ada/tidaknya katabolisme jaringan.

      • Perhatikan adanya mual/muntah.
        R : mengidentifikasi gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen, mempengaruhi pilihan intervensi.

      • Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam perencanaan menu.
        R : Dapat meningkatkan pemasukan oral dan meningkatakan perasaan control/tanggung jawab.

      • Berikan makanan sedikit dan frekuensi sering.
        R : meningkatkan pemasukan nutrisi.

      • Berikan perawatan mulut sering.
        R : menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak enak dimulut.

      • Kolaborasi, kebutuhan diet dengan ahli gizi.
        R : berguna untuk program diet individu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

      • Kolaborasi, pemberian multivitamin.
        R : menggantikan kehilangan vitamin karena malnutrisi/anemia atau selama dialysis.

      • Kolaborasi, pengawasan kadar protein/albumin serum.
        R : merupakan indikator kebutuhan protein.

      • Kolaborasi, pemberian antiemetik.
        R : menurunkan stimulasi pada pusat muntah.

      • Kolaborasi, sarankan penggunaan selang nasogastrik jika diindikasikan.
        R : diperlukan jika terjadi muntah menetap atau bila makan enteral diinginkan.


    • Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan terapi pembatasan, penurunan kekuatan/tahanan, gangguan persepsi/kognitif.
      Intervensi / Implementasi

      • Kaji keterbatasan aktivitas.
        R : mempengaruhi intervensi.

      • Ubah posisi secara sering bila tirah baring; dukung bagian tubuh yang sakit/sendi dengan bantal.
        R : menurunkan ketidaknyamanan, mempertahankan kekuatan otot,/mobilitas sendi, meningkatkan sirkulasi, dan mencegah kerusakan kulit.

      • Pertahankan kebersihan dan kekeringan kulit, pertahankan linen kering dan bebas kerutan.
        R : Mencegah iritasi kulit.

      • Dorong napas dalam dan batuk.
        R : memobilisasi sekresi, memperbaiki ekspansi paru.

      • Berikan pengalihan dengan tepat pada kondisi pasien (pengunjung, radio/TV, buku).
        R : menurunkan kebosanan, meningkatkan relaksasi.

      • Bantu dalam latihan rentang gerak aktif/pasif.
        R : mempertahankan kelenturan sendi, mencegah kontraktur dan membantu dalam menurunkan tegangan otot.

      • Buat dalam rencana program aktivitas dengan masukkan dari pasien.
        R : meningkatkan energi pasien dan mengontrol perasaan sejahtera.


    • Kurang perawatan diri sehubungan dengan intoleransi aktivitas.
      Intervensi / Implementasi

      • Tentukan skala kemampuan pasien untuk berpartisispasi dalam aktivitas perawatan diri (skala 0-4).
        0    =     mandiri penuh
        1    =     memerlukan penggunaan alat
        2    =     memerlukan bantuan bantuan orang llain untuk pertolongan, pengawasan,   pengajaran.
        3    =    membutuhkan bantuan dari orang lain dan peralatan/alat bantu.
        4    =    ketergantungan penuh/tidak dapat berpartisipasi dalam aktivitas.


      R : kondisi dasar akan menentukan tingkat kekurangan/kebutuhan.

      • Berikan bantuan aktivitas sesuai dengan yang diperlukan.
        R : memenuhi kebutuhan dengan mendukung partisipasi dan kemandirian pasien.

      • Anjurkan untuk menggunakan teknik menghemat energi, melakukan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi.
        R : menghemat energi, menurunkan kelelahan, danmeningkatkan kemapuan pasien untuk melakukan tugas.

      • Jadwalkan aktivitas yang memungkinkan pasien cukup waktu untuk menyelesaikan tugas pada kemampuan optimal.
        R : pendekatan yang tenang menurunkan frustasi, meningkatkan partisipasi pasien, meningkatkan harga diri.


    • Risiko tinggi terhadap konstipasi sehubungan dengan penurunan masukkan cairan, perubahan pola diet, penurunan motilitas usus.
      Intervensi / Implementasi

      • Kaji kemampuan defekasi , frekuensi, warna, konsistensi dan flatus.
        R : menilai seberapa berat gangguan defekasi, memudahkan intervensi.

      • Observasi ada/tidak bising usus dan distensi abdomen.
        R : bising usus mungkin hipoaktif atau hiperaktif, menandakan adanya gangguan peristaltic usus, mempengaruhi intervensi.

      • Instruksikan pasien dalam bantuan eleminasi, defekasi.
        R : upaya meningkatkan pola defekasi normal yang optimal.

      • Berikan kepada pasien tentang efek diet (cairan dan serat) pada eleminasi.
        R : cairan dan serat baik untuk pencernaan, feses menjadi lunak dan mudah untuk defekasi.

      • Instruksikan pasien menghindari mengejan selama selama defekasi.
        R : mengejan mengeluarkan banyak energi, sehingga dapat mengakibatkan kelelahan, pusing dan pingsan.

      • Konsultasikan/kolaborasi dokter pemberian : pelembut feses, enema, laksatif.
        R : membantu pasien dalam kemudahan eleminasi defekasi, feses lembut dan mudah dikeluarkan.

      • Kolaborasi ahli gizi untuk kebutuhan diet.
        R : Pengaturan makanan yang baik mencegah/mengurangi feses keras/kering, memudahkan defekasi.


    • Perubahan proses pikir sehubungan dengan perubahan fisiologis.
      Intervensi / Implementasi

      • Kaji perubahan perilaku / perubahan dalam tingkat kesadaran (orientasi waktu, tempat, orang).
        R : mengindikasikan tingkat toksisitas uremik, respons terhadap terjadinya komplikasi dialysis.

      • Berikan penjelasan sederhana tentang kondisi, orientasikan kembali dengan sering.
        R : memperbaiki orientasi realita.

      • Berikan lingkungan aman, bila perlu pasang pagar tempat tidur.
        R : mencegah trauma dan/ atau penglepasan aliran dialisis/kateter tidak hati – hati.

      • Selidiki keluhan sakit kepala, sehubungan dengan timbulnya mual/muntah, kacau/agitasi, hipertensi, tremor, atau kejang.
        R : dapat menunjukkan terjadinya sindrom ketidakseimbangan yang dapat terjadi mendekati selesainya/menyertai hemodialisa.

      • Awasi perubahan dalam pola bicara, terjadinya dimensia, aktivitas mioklunos selama heaemodialisa.
        R : kadang – kadang akumulasi aluminium dapat menyebabkan demensia dialisis, berlanjut ke kematian bila tidak diatasi.

      • Kolaborasi pengawasan BUN/kreatinin, glukosa serum, ubah/ganti konsentrasi dialisat atau tambahkan insulin sesuai indikasi.
        R : mengikuti kemajuan/perbaikan azotemia.

      • Kolaborasi, ambil kadar aluminium sesuai indikasi.
        R : peningkatan dapat memperingatkan ancaman keterlibatan serebral/demensia dialisis.

      • Kolaborasi, berikan obat-obatan sesuai indikasi.
        R : bila terjadi sindrom disekuilibrium selama dialisis, obat – obatan mungkin diperlukan untuk mengontrol kejang selama perubahan pada program dialisis atau kesinambungan terapi.

 

  • Ansietas sehubungan dengan krisis situasional, ancaman kematian.
    Intervensi / Implementasi

    • Kaji dan catat tingkat kecemasan pasien setiap pergantian shift.
      R : tingkat kecemasan (ringan, sedang, berat, panik) mungkin mengalami perubahan setiap kali pergantian shift sehingga mempengaruhi intervensi.

    • Kaji koping individu dalam mengatasi ansietas sebelumnya.
      R : mekanisme koping yang sama mungkin diperlukan untuk mengatasi kecemasan saat ini.

    • Kaji kemampuan pasien dalam pengambilan keputusan.
      R : pasien dengan ansietas bersikap tampak ragu – ragu, ini akan mempengaruhi intervensi.

    • Sediakan informasi factual menyakngkut diagnosis, perawatan dan prognosis.
      R : meningkatkan pemahaman, mengurangi kecemasan.

    • Instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi.
      R : mengurangi ketegangan, meningkatkan perasaan nyaman.

    • Berikan dukungan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
      R : memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya akan memberikan perasaan lega dan mengurangi ansietas.

    • Konsultasikan/kolaborasi dengan dokter, pengobatan untuk mengurangi ansietas.
      R : ansietas berlebihan baik dari segi kualitas maupun kuaantitas memerlukan penanganan lebih lanjut seperti pemberian obat-obatan untuk memberikan perasaan tenang.


  • Gangguan citra tubuh sehubungan dengan krisis situasional, penyakit kronis.
    Intervensi / Implementasi

    • Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang kondisi dan pengobatan, dan ansietas sehubungan dengan situasi saat ini.
      R : mengidentifikasi luas masalah dan perlunya intervensi.

    • Diskusikan arti kehilangan/perubahan pada pasien.
      R : beberapa pasien memandang situasi sebagai tantangan, beberapa sulit menerimanya.

    • Perhatikan perilaku menarik diri, tidak efektif menggunakan pengingkaran atau perilaku yang yang mengindikasikan terlalu mempermasalahkan tubuh dan fungsinya.
      R : indicator terjadinya kesulitan menangani stress terhadap apa yang terjadi.

    • Kaji penggunaan substansi adiktif (contoh, alkohol), pengrusakkan diri/perilaku bunuh diri.
      R : menunjukkan disfungsi koping dan upaya untuk menangani masalah dalam tindakan tidak efektif.

    • Tentukan tahap berduka. Perhatikan tanda depresi berat/lama.
      R : indentifikasi tahap yang sedang pasien alami memberikan pedoman untuk mengenal dan menerima perilaku dengan tepat. Depresi lama menunjukkan perlunya intervensi lanjut.

    • Akui kenormalan perasaan.
      R : pengenalan perasaan tersebut diharapkan membantu pasien untuk menerima dan mengatasi secara efektif.

    • Dorong pasien untuk menyatakan konflik kerja dan pribadi yang mungkin timbul, dan dengar dengan aktif.
      R : membantu pasien mengidentifikasi dan solusi masalah.

  • Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat, tidak mengenal sumber informasi, keterbatasan kognitif.
    Intervensi / Implementasi

    • Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang kondisi, prognosis dan pengobatan saat ini.
      R : mengidentifikasi seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakitnya.

    • Berikan penjelasan pada pasien dan keluarga tentang keadaan saat ini.
      R : mengurangi kecemasan, meningkatkan pengetahuan dan menghasilkan penerimaan dan kerjasama yang baik dalam proses terapi.

    • Anjurkan pasien dan keluarga untuk memperhatikan anjuran dietnya.
      R : diet yang tepat dan benar membantu dalam proses penyembuhan.

    • Dorong dan berikan kesempatan pasien untuk bertanya.
      R : meningkatkan proses belajar, meningkatkan pengambilan keputusan, dan menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan.

    • Minta pasien dan keluarga untuk mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.
      R : mengetahui seberapa jauh pemahaman pasien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

 


  • Evaluasi

  1. Menunjukkan berat badan stabil atau meningkat dengan nilai laboratorium normal.

  2. Mempertahankan mobillitas atau fungsi optimal yang dapat dilakukan.

  3. Berpartisispasi pada aktivitas sehari – hari dalam tingkat kemampuan diri/keterbatasan penyakit.

  4. Mempertahankan pola fungsi usus normal.

  5. Mengenal perubahan dalam berpikir/perilaku dan menunjukkan perilaku untuk mencegah/meminimalkan perubahan.

  6. Menyatakan perasaan cemas berkurang/terkontrol, menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah dan penggunaan sumber secara efektif, tampak rileks/dapat tidur dan istirahat secara tepat.

  7. Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negative pada diri sendiri, menyatakan penerimaan terhadap situasi diri, menunjukkan adaptasi terhadap perubahan/kejadian yang telah terjadi.

  8. Menyatakan pemahaman tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan ; melakukan tindakan secara benar dan dapat menjelaskan alas an tindakan.


 

DAFTAR PUSTAKA

 


 

Burnama, Erawati F. 2007, Protap Perawatan Klien Haemodialisa. Instalasi Dialisis RSUD Dr. Doris Sylvanus. Palangka Raya.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed.3. Jakarta : EGC.
Nursalam, M.Nurs, DR (Hons). 2006. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika.


HERNIA

Definisi

Adalah suatu benjolan/penonjolan isi perut dari rongga normal melalui lubang kongenital atau didapat(1).

Adalah penonjolan usus melalui lubang abdomen atau lemahnya area dinding abdomen (3).

Is the abnormal protrusion of an organ, tissue, of part of an organ through the structure that normally cotains it (1).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa hernia adalah penonjolan dari isi perut dalam rongga normal melalui lubang yang kongenital ataupun didapat.

Etiologi

Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi (2).

Klasifikasi

Menurut/tofografinya : hernia inguinalis, hernia umbilikalis, hernia femoralis dan sebagainya.

Urut isinya : hernia usus halus, hernia omentum, dan sebagainya.

Menurut terlibat/tidaknya : hernia eksterna (hernia ingunalis, hernia serofalis dan sebagainya).

Hernia inferna tidak terlihat dari luar (hernia diafragmatika, hernia foramen winslowi, hernia obturatoria).

Causanya : hernia congenital, hernia traumatika, hernia visional dan sebagainya.

Keadaannya : hernia responbilis, hernia irreponibilis, hernia inkarserata, hernia strangulata.

Nama penemunya :

  • H. Petit (di daerah lumbosakral)
  • H. Spigelli (terjadi pada lenea semi sirkularis) di atas penyilangan rasa epigastrika inferior pada muskulus rektus abdominis bagian lateral.
  • H. Richter : yaitu hernia dimana hanya sebagian dinding usus yang terjepit.

Beberapa hernia lainnya :

  • H. Pantrolan adalah hernia inguinalis dan hernia femoralis yang terjadi pada satu sisi dan dibatasi oleh rasa epigastrika inferior.
  • H. Skrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke skrotum secara lengkap.
  • H. Littre adalah hernia yang isinya adalah divertikulum Meckeli.


 

Tanda dan Gejala

Umumnya penderita menyatakan turun berok, burut atau kelingsir atau menyatakan adanya benjolan di selakanganya/kemaluan.bnjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi.


 

Pathways


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diameter anulus inguinalis

Penatalaksanaan (2)

Pada hernia inguinalis lateralis reponibilis maka dilakukan tindakan bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi.

Pada yang ireponibilis, maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali. Pasien istirahat baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan tekanan yang kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan usaha ini berulang-ulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah efektif di kemudian hari atau menjadi inkarserasi.

Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.

Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi hernia dimasukkan,kantong diikat dan dilakukan "bassin plasty" untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

Pada bedah darurat, maka prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan dipotong. Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois "end to end".


 

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul (3)

Nyeri (khususnya dengan mengedan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau intervensi pembedahan.

Hasil yang diperkirakan : dalam 1 jam intervensi, persepsi subjektif klien tentang ketidaknyamanan menurun seperti ditunjukkan skala nyeri.

Indikator objektif seperti meringis tidak ada/menurun.

  1. Kaji dan catat nyeri
  2. Beritahu pasien untuk menghindari mengejan, meregang, batuk dan mengangkat benda yang berat.
  3. Ajarkan bagaimana bila menggunakan dekker (bila diprogramkan).
  4. Ajarkan pasien pemasangan penyokong skrotum/kompres es yang sering diprogramkan untuk membatasi edema dan mengendalikan nyeri.
  5. Berikan analgesik sesuai program.


 

Retensi urine (resiko terhadap hal yang sama) yang berhubungan dengan nyeri, trauma dan penggunaan anestetik selama pembedahan abdomen. Hasil yang diperkirakan : dalam 8-10 jam pembedahan, pasien berkemih tanpa kesulitan. Haluaran urine ³ 100 ml selama setiap berkemih dan adekuat (kira-kira 1000-1500 ml) selama periode 24 jam.

Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat berkemih.

Pantau haluarna urine. Catat dan laporkan berkemih yang sering < 100 ml dalam suatu waktu.

Permudah berkemih dengan mengimplementasikan : pada posisi normal untuk berkemih rangsang pasien dengan mendengar air mengalir/tempatkan pada baskom hangat.


 

Kurang pengetahuan : potensial komplikasi GI yang berkenaan dengan adanya hernia dan tindakan yang dapat mencegah kekambuhan mereka. Hasil yang diperkirakan : setelah instruksi, pasien mengungkapkan pengetahuan tentang tanda dan gejala komplikasi GI dan menjalankan tindakan yang diprogramkan oleh pencegahan.

Ajarkan pasien untuk waspada dan melaporkan nyeri berat, menetap, mual dan muntah, demam dan distensi abdomen, yang dapat memperberat awitan inkarserasi/strangulasi usus.

Dorong pasien untuk mengikuti regumen medis : penggunaan dekker atau penyokong lainnya dan menghindari mengejan meregang, konstipasi dan mengangkat benda yang berat.

Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diit tinggi residu atau menggunakan suplement diet serat untuk mencegah konstipasi, anjurkan masukan cairan sedikitnya 2-3 l/hari untuk meningkatkan konsistensi feses lunak.

Beritahu pasien mekanika tubuh yang tepat untuk bergerak dan mengangkat.


 

DAFTAR PUSTAKA


 

  1. Core Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Ledmann's.
  2. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. Medica Aesculaplus FK UI. 1998.
  3. Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. EGC. 2001.
  4. Keperawatan Medikal Bedah. Charlene J. Reeves, Bayle Roux, Robin Lockhart. Penerjemah Joko Setyono. Penerbit Salemba Media. Edisi I. 2002.
  5. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar UI. FK UI.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN GASTRITIS

GASTRITIS

  • PENGERTIAN
    • Gastritis adalah inflamasi dari dinding lambung terutama pada mukosa gaster. (Hadi, 1995)
    • Gastritis adalah suatu peradangan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal. (Price & Wilson, 1992)
    • Gastritis adalah peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung, yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain. (Charlene J, Reeves, 2001)


     

  • ETIOLOGI

    Beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan lapisan pelindung lambung.

    • Gastritis Bakterialis
    • Infeksi bakteri Helicobacter Pylori yang hidup didalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Diperkirakan ditularkan melalui jalur oral atau akibat memakan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi ini sering terjadi pada masa kanak-kanan dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan.
      • Infeksi bakteri Campylobacter Pyloroides.
    • Gastritis Karena Stres Akut
      • Penyakit berat atau trauma ( cedera ) yang terjadi tiba – tiba.
      • Pembedahan
      • Infeksi berat
      • Cederanya sendiri mungkin tidak mengenai lambung seperti terjadi pada luka bakar yang luas atau cedera yang menyebabkan perdarahan hebat.


 

  • Gastritis Erosif Kronis
    • Pemakaian obat penghilang rasa nyeri secara terus – menerus. Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti Aspirin, Ibu Profen dan Naproxen dapat menyebabkan perdarahan pada lambung dengan cara menurunkan Prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung.
    • Penyakit Crohn, gejalanya sakit perut dan diare dalam bentuk cairan. Bisa menyebabkan peradangan kronis pada dinding saluran cerna namun, kadang – kadang dapat juga menyebabkan peradangan pada dinding lambung.
    • Penggunaan Alkohol secara berlebihan , alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mucosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung lebih rentan terhadap asam lambung walaupun dalam kondisi normal.
  • Gastritis Eosinofilik

    Terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infeksi cacing gelang Eosinofil (sel darah putih) terkumpul pada dinding lambung.

  • Gastritis Hipotropi dan Atropi

    Terjadi karena kelainan Autoimmune, Autoimmune Atropic Gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel – sel yang sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar – kelenjar penghasil asam lambung dan mengganggu produksi faktor intrinsik (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B12) kekurangan vitamin B12 akhirnya, dapat mengakibatkan Pernicious Anemia, sebuah kondisi yang serius bila tidak segera dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune Atropic Gastritis terutama terjadi pada orang tua.

  • Penyakit Meiner

    Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar dan memiliki kista yang terisi cairan. Sekitar 10 % penderita ini menderita kanker lambung.

  • Gastritis Sel Plasma

    Sel plasma ( salah satu jenis sel darah putih ) terkumpul dalam dinding lambung dan organ lainnya.

  • Penyakit Bile Refluk

    Bile ( empedu ) adalah cairan yang membantu mencerna lemak – lemak dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju keusus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot Sphincter yang berbentuk seperti cincin (Pyloric Valve) akan mencegah empedu mengalir balik kedalam lambung. Tetapi jika katub ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk kedalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan Gastritis.

  • Radiasi dan Kemoterapi

    Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung dan selanjutnya dapat berkembang menjadi Gastritis dan Peptic Ulcer. Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar – kelenjar penghasil asam lambung.

  • Faktor-faktor lain

    Gastritis sering juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan lainnya seperti HIV / AIDS, infeksi oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal.


 


 


 


 

  • PATOFISIOLOGI

    Lambung adalah sebuah kantong otot yang kosong, terletak dibagian kiri atas perut tepat dibawah tulang iga. Lambung orang dewasa memiliki panjang berkisar antara 10 inci dan dapat mengembang untuk menampung makanan atau minuman sebanyak 1 gallon. Bila lambung dalam keadaan kosong, maka ia akan melipat, mirip seperti sebuah akordion. Ketika lambung mulai terisi dan mengembang, lipatan – lipatan tersebut secara bertahap membuka.

    Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap melepaskannya kedalam usus kecil. Ketika makanan masuk kedalam esofagus, sebuah cincin otot yang berada pada sambungan antara esofagus dan lambung ( Esophangeal Sphincer ) akan membuka dan membiarkan makanan masuk lewat lambung. Setelah masuk kelambung cincin ini menutup. Dinding lambung terdiri dari lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada dilambung, dinding lambung akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang sama, kelenjar – kelenjar yang berada dimucosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan cairan lambung ( termasuk enzim – enzim dan asam lambung ) untuk lebih menghancurkan makanan tersebut.

    Suatu komponen cairan lambung adalah Asam Hidroklorida. Asam ini sangat korosif sehingga paku besipun dapat larut dalam cairan ini. Dinding lambung dilindungi oleh mucosa – mucosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate secara reguler sehingga menyeimbangkan keasaman dalam lambung ) sehingga terhindar dari sifat korosif hidroklorida. Fungsi dari lapisan pelindung lambung ini adalah agar cairan asam dalam lambung tidak merusak dinding lambung. Kerusakan pada lapisan pelindung menyebabkan cairan lambung yang sangat asam bersentuhan langsung dengan dinding lambung dan menyebabkan peradangan atau inflamasi.Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung.

  • MANIFESTASI KLINIS

Gejalanya bermacam – macam, tergantung kepada penyebab Gastritisnya. Biasanya penderita Gastritis mengalami gangguan pencernaan ( Indigesti ) dan rasa tidak nyaman diperut sebelah atas

  • Gastritis Bakterialis

    Dapat ditandai dengan adanya demam, sakit kepala dan kejang otot.

  • Gastritis Karena Stres Akut

    Penyebabnya (misalnya penyakit berat, luka bakar atau cedera) biasanya menutupi gejala – gejala lambung : tetapi perut sebelah atas terasa tidak enak. Segera setelah cedera, timbul memar kecil dalam lapisan lambung, dalam beberapa jam memar ini bisa berubah menjadi ulkus. Ulkus dan Gastritis bisa menghilang bila penderita sembuh dengan cepat dari cederanya. Bila penderita tetap sakit, ulkus bisa membesar dan mulai mengalami pendarahan, biasanya dalam waktu 2 – 5 hari setelah terjadinya cedera. Perdarahan menyebabkan tinja berwarna kehitaman seperti aspal, cairan lambung menjadi kemerahan dan jika sangat berat, tekanan darah bisa turun. Perdarahan bisa meluas dan berakibat fatal.

  • Gastritis Erosif Kronis

    Gejalanya berupa mual ringan dan nyeri diperut sebelah atas. Tetapi banyak penderita ( misalnya pemakai Aspirin jangka panjang ) tidak merasakan nyeri. Penderita lainnya merasakan gejala yang mirip ulkus, yaitu nyeri ketika perut kosong. Jika gastritis menyebabkan perdarahan dari ulkus lambung, gejalanya berupa tinja berwarna kehitaman seperti aspal ( Melena ), muntah darah ( Hematemesis ) atau makanan yang sudah dicerna yang menyerupai endapan kopi.

  • Gastritis Eosinofilik

    Gejalanya berupa nyeri perut dan muntah bisa disebabkan penyempitan atau penyumbatan ujung saluran lambung yang menuju keusus dua belas jari.

  • Penyakit Meniere

    Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri lambung. Hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan penurunan berat badan, lebih jarang terjadi. Tidak pernah terjadi perdarahan lambung. Penimbunan cairan dan pembengkakan jaringan (edema) bisa disebabkan karena hilangnya protein dari lapisan lambung yang meradang. Protein yang hilang ini bercampur dengan isi lambung dan dibuang dari tubuh.

  • Gastitis Sel Plasma

    Gejalanya berupa nyeri perut dan muntah bisa terjadi bersamaan dengan timbulnya ruam dikulit dan diare.

  • Gastritis Akibat Terapi Penyinaran

    Menyebabkan nyeri, mual dan Heartburn (rasa hangat atau rasa terbakar dibelakang tulang dada), yang terjadi karena adanya peradangan dan kadang karena adanya tukak dilambung. Tukak bisa menembus dinding lambung sehingga isi lambung tumpah kedalam rongga perut, menyebabkan peritonitis (peradangan lapisan perut) dan nyeri yang luar biasa. Perut kaku dan keadaan ini memerlukan tindakan pembedahan darurat. Kadang setelah terapi penyinaran, terbentuk jaringan parut yang menyebabkan menyempitnya saluran lambung yang menuju keusus duabelas jari, sehingga terjadi nyeri perut dan muntah. Penyinaran bisa merusak lapisan pelindung lambung, sehingga bakteri dapat masuk kedalam dinding lambung dan menyebabkan nyeri hebat yang muncul secara tiba – tiba.

    Gejala Gastritis secara umum

  1. Hilangnya nafsu makan.
  2. Sering disertai rasa pedih atau kembung di ulu hati, mual dan muntah.
  3. Perih atau sakit seperti rasa terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk ketika makan.
  4. Perut terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan.
  5. Kehilangan berat badan.


 


 

  • KLASIFIKASI

    Gastritis dibagi menjadi 2 jenis (Charlene.J.Reeves, 2001) yaitu:

    • Gastritis Akut

      Gastritis akut adalah proses peradangan jangka pendek dengan konsumsi agen kimia atau makanan yang mengganggu dan merusak mucosa gastrik. Agen semacam itu mencakup bumbu, rempah-rempah, alkohol, obat-obatan, radiasi, chemoterapi dan mikroorganisme infektif.

    • Gastritis Kronis

      Gastritis kronis dibagi dalam tipe A dan B. Gastritis tipe A mampu menghasilkan imun sendiri, tipe ini dikaitkan dengan atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mucosa. Penurunan pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi. Anemia Pernisiosa berkembang dengan proses ini. Sedangkan Gastritis tipe B lebih lazim, tipe ini dikaitkan dengan infeksi bakteri Helicobacter Pylori, yang menimbulkan ulkus pada dinding lambung.


       

  • PEMERIKSAAN PENUNJANG

    Bila pasien didiagnosis terkena Gastritis, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui secara jelas penyebabnya.

    Pemeriksaan ini meliputi :

    • Pemeriksaan Darah

      Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H. Pylori dalam darah. Hasil test yang positif menunjukan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya, tapi itu tidak menunjukan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa Anemia, yang terjadi akibat pendarahan lambung akibat Gastritis.

    • Pemeriksaan Pernafasan

      Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh bakteri H. Pylori atau tidak.

    • Pemeriksaan Feses

      Tes ini memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif mengindikasikan terjadi infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini menunjukan adanya perdarahan pada lambung.

    • Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas

      Dengan test ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dengan sinar-X. Test ini dilakukan dengan cara memesukan sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan masuk kedalam Esopagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dimati-rasakan (anestesi) sebelum endoskop dimasukan untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani test ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel (biopsi) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa kelaboratorium untuk diperiksa. Test ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika selesai test ini, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang, kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko akibat test ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.

    • Ronsen Saluran Cerna Bagian Atas

      Test ini akan melihat adanya tanda-tanda Gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya pasien akan diminta menelan cairan Barium terlebih dahulu sebelum dilakukan Ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika dironsen.

  • PENCEGAHAN

Walaupun infeksi H.Pylori tidak dapat selalu dicegah, berikut beberapa saran untuk dapat mengurangi resiko terkena Gastritis.


 

  • Makan secara benar

    Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan, atau berlemak. Yang sama pentingnya dengan pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.

  • Hindari Alkohol

    Penggunaan Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapaisan mucosa lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan perdarahan.

  • Jangan merokok

    Merokok mengganggu kerja lapisan lambung, membuat lambung lebih rentan terhadap Gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan asam lambung, sehingga menunda penyembuhan lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker lambung.

  • Lakukan olah raga secara teratur

Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernafasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktivitas otot usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.

  • Kendalikan stres

    Stres meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stres juga dapat meningkatkan produksi asam lambung dan memperlambat kecepatan pencernaan. Karena stres bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalah dengan mengendalikannya secara efektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.

  • Ganti obat penghilang nyeri

    Jika memungkinkan ahindari penggunaan AINS, obat-obat golongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan penghilang nyeri yang mengandung Acetaminophen.

  • Ikuti rekomendasi dokter


 

  • PENATALAKSANAAN

    Terapi Gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya dan mungkin memerlukan perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau dalam kasus yang jarang pembedahan untuk mengobatinya.

    • Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter Pylori, maka diberikan Bismuth, Antibiotik (misalnya Amoxicillin &Claritromycin) dan obat anti-tukak (misalnya Omeprazole).
    • Penderita Gastritis karena stres akut banyak mengalami penyembuhan (penyakit berat, cedera atau perdarahan) berhasil diatasi. Tetapi sekitar 2 % penderita Gastritis karena stres akut mengalami perdarahan yang sering berakibat fatal. Karena itu dilakukan pencegahan dengan memberikan Antasid (untuk menetralkan asam lambung) dan obat anti-ulkus yang kuat (untuk mengurangi atau menghentikan pembentukan asam lambung). Perdarahan hebat karena Gastritis akibat stres akut bisa diatasi dengan menutup sumber perdarahan dengan tindakan Endoskopi. Jika perdarahan masih berlanjut mungkin seluruh lambung harus diangkat.
    • Penderita Gastritis Erosif Kronis bisa diobati dengan Antasid. Penderita sebaikanya menghindari obat tertentu (misalnya Aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya) dan makanan yang menyebabkan iritasi lambung. Misoprostol mungkin bisa mengurangi resiko terbentuknya Ulkus karena obat anti peradangan non-steroid.
    • Untuk meringankan penyumbatan disaluran keluar lambung pada Gastritis Eosinofilik, bisa diberikan Kortikosteroid atau dilakukan pembedahan.
    • Gastritis Atrofik tidak dapat disembuhkan, sebagian besar penderita harus mendapatkan suntikan tambahan vitamin B12.
    • Penyakit Meiner bisa disembuhkan dengan mengangkat sebagian atau seluruh lambung.
    • Gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat anti Ulkus yang menghalangi pelepasan asam lambung.
    • Pengaturan diet yaitu pemberian makanan lunak dengan jumlah sedikit tapi sering.
    • Makanan yang perlu dihindari adalah yang merangsang dan berlemak seperti sambal, bumbu dapur dan gorengan.
    • Kedisiplinan dalam pemenuhan jam-jam makan juga sangat membantu pasien dengan gastritis.


     

  • KOMPLIKASI

    Jika dibiarkan tidak terawat, Gastritis akan dapat mengakibatkan Peptic Ulcers dan perdarahan pada lambung. Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko kanker lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus – menerus pada dinding lambung dan perubahan pada sel – sel dinding lambung.

    Kebanyakan kanker lambung adalah Adenocarcinomas, yang bermula pada sel – sel kelenjar dalam mucosa. Adenocarsinomas tipe 1 biasanya terjadi akibat infeksi H. Pylori. Kanker jenis lain yang terkait dengan infeksi akibat H. Pylori adalah MALT (Mucosa associated Lymphoid Tissue) Lymphomas, kanker ini berkembang secara perlahan pada jaringan sistem kekebalan pada dinding lambung. Kanker jenis ini dapat disembuhkan bila ditemukan pada tahap awal.


     


     


 

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN GASTRITIS


 


 


 

  • PENGKAJIAN

    Metode yang dapat digunakan dalam pengkajian berupa wawancara, pemeriksaan fisik, observasi umum, catatan tertulis dari pelayanan kesehatan profesional lain, hasil pemeriksaan diagnostik, catat pada waktu masuk RS dan interaksi dengan perawat, dokter, atau ahli yang lain (Long, 1996).

    Pengkajian kesehatan meliputi waktu terjadinya masalah, durasi, faktor pencetus dan manifestasi – manifestasi yang dirasakannya. Mulai dengan menanyakan mengapa ia mencari bantuan kesehatan, kapan merasakan gejala, tanyakan pasien mengenai keluhan utama dan penyakit saat ini berdasarkan: kapan masalah pertama kali dirasakan? Apakah bertahap atau tiba – tiba? Apa yang dilakukan pasien bila masalah pertama kali dihadapi? Apakah ini berhubungan dengan masukan makanan?

    • Durasi
      • Apakah masalah terjadi kadang – kadang atau menetap?
    • Bila masalah nyeri, perhatikan apakah masalah nyeri kontinyu atau intermitten?
      • Kualitas dan Karakteristik

    Minta pasien untuk menggambarkan masalah

    • Tingkat Keparahan

      Apakah ini mempengaruhi kemampuannya melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari seperti biasanya.

      • Lokasi
        • Dimana pasien merasakan terjadinya masalah?
        • Apakah nyeri menyebar pada bagian tubuh yang lain?
        • Apa yang terjadi pada pasien bila terjadi manifestasi?


 


 

  • Faktor Pencertus
  • Adakah sesuatu yang tampaknya menimbulkan masalah?
  • Apakah hal itu membuat makin buruk / makin baik?
  • Kapan ini terjadi?
  • Apakah berhubungan dengan makanan, minuman atau aktivitas?
  • Apakah makanan mencetuskan / meningkatkan nyeri?

6. Faktor Penghilang

  • Adakah sesuatu yang dilakukan pasien untuk mengurangi masalah?
  • Sudahkah ia mencoba obat – obatan ?
  • Mengubah posisi atau hal lain yang dapat menghilangkan nyerinya?
    • Manifestasi yang berhubungan dengan gastritis
  • Adakah manifestasi lain yang menggganggu pasien bila masalahnya ada?
  • Apakah pasien kehilangan nafsu makan, mual, muntah atau diare?

Dibawah ini adalah sumber data yang berupa biodata pasien, keluhan utama, keluhan tambahan, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga dan pemeriksaan fisik pada pasien dengan Gastritis:

  • Biodata Pasien

Biodata pasien secara lengkap diperlukan untuk memulai hubungan yang harmonis dan serasi antara perawat dan pasien. Adanya hubungan awal yang baik dapat memperlancar dalam mengembangkan hubungan atau komunikasi Terapeutik. Terjalinnya komunikasi terapeutik yang baik dapat membantu menurunkan sters pasien akibat Hospitalisasi dan meningkatkan peras serta pasien dalam perawatan dan pengobatan.

  • Keluhan Utama

Keluhan utama yang dirasakan pasien adalah nyeri didaerah Epigastrium. Nyeri yang dialami dipengaruhi oleh penglaman, persepsi, toleransi dan reaksi orang terhadap nyeri itu sendiri. Individu memberi respon yang berbeda terhadap nyeri, ada yang disertai rasa takut, gelisah, dan cemas sedangkan yang lain penuh dengan toleransi dan optimis. ( Long, 1996 ).

Beberapa mekanisme nyeri yang bersumber dari abdomen yaitu inflamasi peritoneum parietal, obstruksi visera rongga, gangguan vaskular dan dinding abdominal. Nyeri inflamasi peritoneum parietal bersifat tetap, sakit dan terletak langsung pada daerah meradang. Intensitas nyeri tergantung pada tipe dan jumlah substansi benda asing pada peritoneum parietal yang terpapar dalam periode waktu tertentu. Pelepasan mendadak sejumlah kecil cairan asam lambung kerongga peritoneum menyebabkan nyeri yang hebat dibandingkan dengan bahan yang sangat tercemar dalam jumlah yang sama.

Karakteristik lain iritasi peritoneal adalah spasme reflek tonik otot abdomen. Intensitas spasme otot tonik yang menyertai inflamasi peritoneal bergantung pada lokasi proses peradangan atau kecepatan berkembang dan integritas sistem nervosa.

Nyeri obstruksi visera abdominal berongga secara klasik dilukiskan sebagai intermiten, abdomen mulas atau kolik. Nyeri karena gangguan vaskuler disebabkan karena adanya embolisme atau trombosis arteri mesentererika superior.

Nyeri yang timbul dari dinding abdomen biasanya konstan dan sakit. Pergerakan, berdiri lama dan adanya tekanan pada abdomen akan menambah perasaan nyeri dan spasme otot. Keterlibatan otot secara serentak pada bagian lain dari tubuh biasanya bermanfaat untuk membedakan miositis dinding abdomen dari suatu proses intraabdominal yang dapat menyebabkan nyeri pada daerah yang sama.

  • Keluhan Tambahan

Keluhan tambahan yang terdapat pada pasien gastritis biasanya berupa mual dan muntah. Mual dan muntah dikendalikan oleh pusat muntah pada dasar ventrikel otak keempat. Pusat muntah dibagian dorsal lateral dari formasio retikularis medula oblongata, yaitu pada tingkat nukleus motorik dorsal lateral dari syaraf vagus. Pusat ini terletak dekat dengan pusat salivasi, vasomotor dan pernafasan. Alat keseimbangan dapat terserang akibat proses – proses sentral atau perifer. Peranan dari pusat muntah adalah mengkoordinir semua komponen komplek yang terlibat dalam proses muntah. (Long, 1996).

Terjadinya muntah didahului oleh salivasi dan inspirasi dalam sfinter esophagus akan relaksasi, laring dan palatum mole tingkat dan glotis menutup. Selanjutnya diafragma akan berkontraksi dan menurun serta dinding perut juga berkontraksi mengakibatkan suatu tekanan pada lambung dan sebagian isinya dimuntahkan. Peristiwa ini didahului oleh statis lambung, kontraksi duodenum, dan antrum lambung. Mual dirasakan sebagai sensasi tidak enak diepigastrium, dibelakang tenggorokan dan perut. Sensasi mual biasanya disertai dengan berkurangnya motilitas lambung dan meningkatnya kontraksi duodenum.

Terdapat lima penyebab muntah yang utama diantaranya adalah penyakit psikogenik, proses – proses sentral, proses sentral tidak langsung, penyakit perifer dan iritasi lambung atau usus. Konsekuensi dari muntah yang berat dan lama akan meningkatkan dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit serta gangguan asam basa.

  • Riwayat Kesehatan Dahulu

Perawat menanyakan kepada pasien tentang masalah masa lalu pada sistem Gastrointestinal. Pernahkan pasien dirawat dirumah sakit? Untuk melanjutkan pengkajian keperawatan riwayat pasien, perawata mencatat status kesehatan umum pasien serta gangguan dan perbedaan gastrointestinal sebelumnya. Obat – obatan, dapatkan informasi lengkap tentang obat yang diresepkan dan yang dijual bebas, baik saat ini dan yang digunakan sebelumnya. Tanyakan tentang penggunaan Aspirin, dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dapat memperberat gastritis.

  • Riwayat Kesehatan Keluarga

Riwayat kesehatan keluarga tentang penyakit Gastrointestinal yang dapat mempengaruhi masalah kesehatan saat ini dan masa lalu pasien.


 

  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik kemudian dilakukan untuk memastikan data subjektif yang didapat dari pasien. Abdomen diinspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi. Pasien ditempatkan dalam posisi terlentang.

Kontur dan simetrisitas abdomen diperhatikan dengan identifikasi benjolan lokal, distensi atau gerakan peristaltik. Auskultasi dilaksanakan sebelum perkusi dan palpasi dapat meningkatkan motilitas usus, mengubah bising usus. Palpasi digunakan untuk mengidentifikasi masa abdomen atau area nyeri tekan sebelum perkusi dan palpasi. Timpani atau pekak dicatat selama perkusi. (Ester, 2000)

Nyeri tekan pada regio epigastrik merupakan salah satu dari manifesrasi klinis pada gastritis. (Long, 1996). Nyeri pada regio epigastrik terjadi karena destruksi mucosa lambung. Destruksi tersebut terjadi karena susana asam yang terdapat pada lumen lambung yang akan mempercepat kerusakan mukosa barier oleh cairan usus yang menyebabkan efek nyeri epigastrik, karena terjadi vasokontriksi pembuluh darah yang disebabkan karena stress terjadi penurunan perfusi mucosa. Iskemia mucosa menyebabkan permeabilitas meningkat sehingga difus balik H+ meningkat dan terjadi pengeluaran histamin mucosa dan pertukaran yang dapat mengakibatkan gejala distensi abdomen dan konsistensi agak keras.


 

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Gangguan rasa nyaman ( Nyeri Akut ) berhubungan dengan Cedera Biologi (Iritasi Lambung )
  2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan makanan tidak adekuat dan rangsangan muntah.
  3. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi pada mukosa lambung
  1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan Muntah, Haematoemesis, Melena.
    1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas menurun dan proses penyakit.
    2. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, pengobatan, perawatan serta hospitalisasi berhubungan dengan Kurang informasi.


 

C. INTERVENSI

DX. I    : Gangguan rasa nyaman (Nyeri Akut) b.d Cedera Biologi (Iritasi Lambung)

Tujuan    : Nyeri berkurang atau hilang

NOC I : Kontrol Nyeri

Kriteria Hasil :

  • Mengetahui faktor penyebab nyeri
  • Mengetahui permulaan terjadinya nyeri
  • Menggunakan tindakan pencegahan
  • Melaporkan gejala
  • Melaporkan kontrol nyeri

NOC II : Tingkat Nyeri

Kriteria Hasil :

  1. Melaporkan nyeri berkurang atau hilang
  2. Frekuensi nyeri berkurang
  3. Lamanya nyeri berlangsung
  4. Ekspresi wajah saat nyeri
  5. Posisi tubuh melindungi

Skala Penilaian NOC :

  • Tidak pernah dilakukan
  • Jarang dilakukan
  • Kadang dilakukan
  • Sering dilakukan
  • Selalu dilakukan


 


 

NIC I : Manajemen Nyeri

Aktivitas

  1. Lakukan pengkajian nyeri secara menyeluruh meliputi lokasi, durasi, kualitas, keparahan nyeri dan faktor pencetus nyeri.
  2. Observasi ketidaknyamanan non verbal.
  3. ajarkan untuk teknik nonfarmakologi misal relaksasi, guide imajeri, terapi musik, distraksi.
  4. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan misal suhu, lingkungan, cahaya, kegaduhan.
  5. Kolaborasi : pemberian Analgetik sesuai indikasi

NIC II : Manajemen Analgetik

Aktivitas

  1. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan tingkat nyeri sebelum mengobati pasien.
  2. Cek obat meliputi jenis, dosis, dan frekuensi pemberian analgetik.
  3. Tentukan jenis analgetik ( Narkotik, Non-Narkotik) disamping tipe dan tingkat nyeri.
  4. Tentukan Analgetik yang tepat, cara pemberian dan dosisnya secara tepat.
  5. Monitor tanda – tanda vital sebelum dan setelah pemberian analgetik.

    DX II     : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d masukan makanan tidak adekuat dan rangsangan muntah.

Tujuan    : Kebutuhan nutrisi terpenuhi

NOC : Status Gizi

Kriteria Hasil :

  1. Mempertahankan berat badan dalam batas normal

    Berat badan ideal :

    Rumus : 8 + 2n     n : umur

    Status nutrisi = Berat badan sekarang             X 100 %

    Berat Ideal

  2. Toleransi terhadap diet yang dianjurkan

    Pasien mau makan diet yang diberikan minimal habis ½ porsi, nafsu makan baik.

  3. Melaporkan keadekuatan tingkat energi

    Pasien tidak lemas dan lemah.

  4. Menyatakan keinginan untuk mengikuti diet

    Pasien mau makan.

  5. Nilai laboratorium misal Albumin dan Globulin dalam batas normal

    Albumin normal : 3,5 – 5,3 gr/dl

    Globulin normal : 2,7 – 3,2 gr/dl

    Hemoglobin : 12 – 16 gr/dl

    SGOT : L<37, P<31 uI/L

    SGPT : L<41, <31 uI/L

Skala penilaian NOC :

  1. Tidak adekuat
  2. Ringan
  3. Sedang
  4. Kuat
  5. Adekuat total

NIC : Pengelolaan Nutrisi

Aktivitas

  • Kaji tentang makanan yang membuat klien alergi.
  • Tentukan makanan kesukaan klien.
  • Dorong pasien untuk memilih makanan yang lunak.
  • Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
  • Hindari makanan pedas, asam atau berminyak.
  • Monitor jumlah pemasukan nutrisi dan kalori.
  • Kolaborasi :
  1. Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan jumlah kebutuhan kalori dan protein.
  2. Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan, makanan pelengkap.

DX III :     Hipertermi b.d Proses infeksi pada mukosa lambung

Tujuan :     Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh

NOC : Termoregulasi


 

Kriteria Hasil :

  1. Suhu tubuh dalam batas normal

    Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37 derajat celsius

  2. Menjelaskan tindakan untuk mengurangi peningkatan suhu tubuh

    Tindakan untuk mengurangi peningkatan suhu tubuh.

  3. Tidak ada perubahan warna kulit.

Warna kulit tidak sianosis, turgor kulit baik.

  1. Denyut nadi normal

    Nadi

    New Born            100 – 180 X/menit

    1 minggu – 3 bulan    100 – 120 X/menit

    3 bulan – 3 tahun        80 – 150 X/menit

    2 – 10 tahun        70 – 110 X/menit

    10 tahun – dewasa        55 – 90 X/menit

  2. Respirasi normal

    Pernafasan

    New Born            35 X/menit

    1 – 11 bulan        30 X/menit

    2 tahun            25 X/menit

    4 tahun            23 X/menit

    6 tahun            21 X/menit

    8 tahun             20 X/menit

    10 – 12 tahun        19 X/menit

    14 tahun            18 X/menit

    16 tahun            17 X/menit

    18 tahun            16 – 18 X/menit

  3. Cairan seimbang (intake dan out put) dalam 24 jam

    Urine output

    1 – 3 tahun            500 – 600 ml

    3 – 5 tahun            600 – 700 ml

    5 – 8 tahun            700 – 1000 ml

    8 – 14 tahun        800 – 1400 ml

    14 –18 tahun        1500 ml

    Berat jenis urine 20 – 40 mg/dl

7. Tekanan darah dalam batas normal

Tekanan darah

New Born            40 mmHg

1 bulan            85/54 mmHg

1 tahun            95/65 mmHg

6 tahun            105/65 mmHg

10 – 13 tahun        110/65 mmHg

14 – 17 tahun        120/80 mmHg

Skala Penilaian NOC :

  1. Tidak normal
  2. Jauh dari normal
  3. Hampir normal
  4. Cukup normal
  5. Normal

NIC I : Regulasi tubuh

  1. Observasi tanda – tanda vital
  2. Berikan minuman per oral
  3. Kompres dengan air hangat
  4. Kolaborasi pemberian Antipiretik
  5. Monitor masukan dan keluaran cairan dalam 24 jam

    DX. IV :     Resiko kekurangan volume cairan b.d Muntah, Haematoemesis, Melena

    Tujuan :     Tidak ada tanda – tanda kekurangan volume cairan misal dehidrasi

    NOC : Fluid Balance

    Kriteria Hasil :

  6. Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam
  7. Tidak terlihat mata cekung
  8. Kelembaban kulit dalam batas normal
  9. Membran mukosa lembab
  10. Berat badan stabil

Skala Penilaian NOC :

  1. Luar biasa kompromi
  2. Kompromi sekali
  3. Kompromi baik
  4. Kompromi sedang
  5. Tidak ada kompromi

NIC : Fluid Management

Aktivitas

  1. Timbang popok jika diperlukan
  2. Pertahan intake dan output yang akurat
  3. Monitor status hidrasi (kelembaban membran mucosa, nadi adekuat, tekanan darah)
  4. Monitor vital sign
  5. Dorong masukan oral
  6. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
  7. Kolaborasi
    1. Pemberian cairan IV
    2. Pemberian tranfusi darah jika perlukan

DX. V    : Resiko tinggi infeksi b.d Imunitas menurun dan Proses penyakit

Tujuan    : Tidak terjadi infeksi lebih lanjut


 


 


 

NOC I : Imune Status

Kriteria Hasil :

  1. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi

    Tidak ada rubor, color, dolor, tumor dan fungsiolesa.

  2. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  3. Menunjukan perilaku hidup sehat

    Personal hygiene pasien terpenuhi baik sacara mandiri maupun dibantu keluarga.


 

NOC II : Pengendalian Resiko

Kriteria Hasil :

  1. Mengindikasikan status gastrointestinal, pernafasan, genitouria dan imun dalam batas normal

    a. Tidak ada konstipasi atau diare.

b. Pernafasan

New Born            35 X/menit

1 – 11 bulan        30 X/menit

2 tahun            25 X/menit

4 tahun            23 X/menit

6 tahun            21 X/menit

8 tahun             20 X/menit

10 – 12 tahun        19 X/menit

14 tahun            18 X/menit

16 tahun            17 X/menit

18 tahun            16 – 18 X/menit

c. Tidak ada gangguan dalam berkemih

d. Daya tahan tubuh baik tidak mudah terserang penyakit


 


 


 


 

  1. Mendapatkan imunisasi yang tepat

    Imunisasi

Umur 

Imunisasi yang harus didapat 

0 bulan 

Hepatitis B1, BCG, Polio 1 

2 bulan 

Hepatitis B2, DPT1, Polio 2 

3 bulan 

DPT2, Polio 3 

4 bulan 

DPT3, Polio 4 

6 bulan 

Hepatitis B3 

9 bulan 

Campak


 

Skala Penilaian NOC :

  1. Tidak pernah menunjukan
  2. Jarang menunjukan
  3. Kadang menunjukan
  4. Sering menunjukan
  5. Konsisten menunjukan

NIC : Infection Protection

Aktivitas

  1. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
  2. Monitor terhadap kerentanan infeksi
  3. Batasi pengunjung
  4. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas dan drainase
  5. Dorong masukan nutrisi yang cukup
  6. Dorong masukan cairan yang cukup
  7. Dorong pasien untuk istirahat
  8. Informasikan kepada keluarga kapan jadwal imunisasi (DPT, Polio, Campak, Rubella)
  9. Jelaskan keuntungan imunisasi
  10. Ajarkan kepada pengunjung untuk mencuci tangan setiap kali masuk dan keluar dari ruangan klien.
  11. Kolaborasi : Berikan antibiotik jika diperlukan

    DX. VI    : Kurang pengetahuan mengenai kondisi, pengobatan, perawatan serta hospitalisasi

Tujuan    : Pengetahuan pasien dan keluarga bertambah

NOC : Pengetahuan : Proses Penyakit

Kriteria Hasil

  1. Mengenal nama penyakit
  2. Deskripsi proses penyakit
  3. Deskripsi faktor penyebab
  4. Deskripsi tanda dan gejala
  5. Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit
  6. Deskripsi komplikasi penyakit
  7. Deskripsi tindakan pencegahan terhadap komplikasi

Skala Penilaian NOC :

  1. Tidak ada
  2. Sedikit
  3. Sedang
  4. Luas
  5. Lengkap

NIC : Pembelajaran Proses Penyakit

Aktivitas

  1. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakit
  2. Jelaskan tanda dan gejala penyakit
  3. Jelaskan proses penyakit
  4. Identifikasi penyebab penyakit
  5. Berikan informasi tentang kondisi klien
  6. Berikan informasi tentang hasil pemeriksaan laboratorium
  7. Diskusikan perubahan gaya hidup untuk mencegah komplikasi


 


 


 

C. EVALUASI

Dx 

Kriteria Hasil 

Keterangan Skala 

Kontrol Nyeri

NOC I : Kontrol Nyeri

Kriteria Hasil :

  1. Mengetahui faktor penyebab nyeri
  2. Mengetahui permulaan terjadinya nyeri
  3. Menggunakan tindakan pencegahan
  4. Melaporkan gejala
  5. Melaporkan kontrol nyeri

NOC II : Tingkat Nyeri

Kriteria Hasil

  1. Melaporkan nyeri berkurang atau hilang
  2. Frekuensi nyeri berkurang
  3. Lamanya nyeri berlangsung
  4. Ekspresi wajah saat nyeri
  5. Posisi tubuh melindungi 


 


 


 

  1. Tidak pernah dilakukan
  2. Jarang dilakukan
  3. Kadang dilakukan
  4. Sering dilakukan
  5. Selalu dilakukan


 

II


 


 

NOC : Status Gizi

  1. Mempertahankan berat badan dalam batas normal
  2. Toleransi terhadap diet yang dianjurkan
  3. Melaporkan keadekuatan tingkat energi
  4. Menyatakan keinginan untuk mengikuti diet
  5. Nilai laboratorium misal Albumin dan globulin dalam batas normal 


 


 


 

  1. Tidak adekuat
  2. Ringan
  3. Sedang
  4. Kuat
  5. Adekuat total 

III. 

NOC : Termoregulasi

  1. Suhu tubuh dalam batas normal
  2. Menjelaskan tindakan untuk mengurangi peningkatan suhu tubuh
  3. Tidak ada perubahan warna kulit
  4. Denyut nadi normal
  5. Respirasi normal
  6. Cairan seimbang (intake & output) dalam 24 jam
  7. Tekanan darah dalam batas normal 


 

  1. Tidak normal
  2. Jauh dari normal
  3. Hampir normal
  4. Cukup normal
  5. Normal 


 


 

IV. 


 


 

NOC : Fluid Balance

  1. Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam
  2. Berat badan stabil
  3. Tidak ada cekung
  4. Kelembaban kulit dalam batas normal
  5. Membran mukosa lembab 


 


 

  1. Luarbiasa kompromi
    1. Kompromi sekali
    2. Kompromi baik
    3. Kompromi sedang
    4. Tidak kompromi 

V. 

NOC I : Imune Status

  1. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi
  2. Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
  3. Menunujukan perilaku hidup sehat

NOC II : Pengendalian Resiko

  1. Mengindikasikan status gastrointestinal, pernafasan, genitouria dan imun dalam batas normal
  2. Mendapatkan imunisasi yang tepat 


 

  1. Tidak pernah menunjukan
  2. Jarang menunjukan
  3. Kadang menunjukan
  4. Sering menunjukan
  5. Konsisten menunjukan


 


 


 


 


 

VI. 

1. Mengenal nama penyakit

2. Deskripsi proses penyakit

3. Deskripsi faktor penyebab

4. Deskripsi tanda dan gejala

5.Deskripsi cara meminimalkan perkembangan penyakit

6. Deskripsi komplikasi penyakit

7.Deskripsi tindakan pencegahan terhadap komplikasi

1. Tidak ada

2. Sedikit

3. Sedang

4. Luas

5. Lengkap


 


 


 


 


 


 


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 


 

Brunner, A. Suddart, 2005, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,ed 8 vol.3, EGC, Jakarta.

Ester, M, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Pendekatan Sistem Gastrointestinal, EGC, Jakarta.

Johnson, Marion, 2000, Nursing Outcomes Classification (NOC), second edition, Mosby, United State of American.

Hadi, Sujono, 1991, Gastroenterologi, ed 5, Alumni, Bandung.

Long, BC, 1996, Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, Yayasan Ikatan Pendidikan Keperawatan Pajajaran , Bandung.

Mansjoer, A, Suprohaita & Setyowulan, 1999, Kapita Selekta Kedokteran ed 3, Media Aesculapius, Jakarta.

MC, Closkey, Joanne C, 1996, Nursing Intervention Classification (NIC), second edition, Mosby, United State of American.

Santosa, Budi, 2006, Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006 Definisi dan Klasifikasi, EGC, Jakarta.

Priharjo, R, 1996, Pengkajian Fisik Keperawatan, editor Gede Yasmin asih, EGC, Jakarta.

Reeves, Charlene J, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Salemba Medika, Jakarta.

Suharyo, dkk, 1988, Gastroenterologi Anak Praktis, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.


 


 

a